Sabtu, 30 Juli 2022

Kesempatan Kerja Sebagai Bentuk Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK

Assalamualaikum

Hi Bestie,


Sebelumnya mau cerita dulu, kalo saya dulu sempet mengidap TBC kelenjar, dan harus menjalani pengobatan selama 6 bulan. Berhubung bandel #uhuk jadilah masih belum sembuh dan harus diulang lagi pengobatannya selama 9 bulan. Alhamdulillah akhirnya sembuh juga, itupun saya sempat mengalami stigma apakah penyakit saya ini menular atau tidak. Dan tentu saja tidak. Kemudian saya kepikiran, bagaimana dengan OYPMK atau disebut juga Orang Yang Pernah Mengalami Kusta. Bagaimana beratnya hidup yang harus mereka hadapi dengan stigma yang terus berkembang di masyarakat?


Alhamdulillah, pada hari Rabu tanggal 27 Juli 2022 kemaren, saya mendapatkan pencerahan setelah menyimak Talkshow bersama Ruang Publik KBR dengan Narasumber Bapak Agus Suprapto, DRG, M. Kes. - Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI dan Bapak Mahdis Mustafa - OYPMK Berdaya/SPV Cleaning Service PT. Azaretha Hana Megatrading dengan Host Mas Rizal Wijaya.



Peran Pemerintah Dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK




Bapak Mahdis bercerita bahwa beliau baru bekerja di perusahaan PT Azaretha Hana Megatrading di awal Januari. Dan beliau sendiri sudah bekerja di 4 perusahaan sebelumnya. Sekitar 2 - 3 bulan yang lalu, Bapak Mahdis dipercaya sebagai Supervisor Cleaning Service. Ia berterima kasih pada perusahaan tersebut karena tetap dipercaya untuk bekerja di Rumah Sakit Umum Pusat Tadjuddin Chalid, Makassar.


Karena kontraknya pertahun, maka beliau harus memperbaiki kontrak dengan perusahaan outsourcing pemenang tender.


Bapak Mahdis mendapat diagnosa menderita penyakit kusta pada tahun 2010. Berhubung di daerahnya stigma di masyarakat cukup tinggi, maka ia pun pindah ke Makassar. 


Saat ini beliau membawahi 2 tim cleaning service. Tim pertama di dalam gedung, dan tim kedua di area taman dan halaman RS.


Ada seorang teman dari organisasi yang sempat mendatangi Bapak Mahdis yang saat itu tengah terpuruk. Pada awalnya Ia tidak mengindahkan karena masih sakit dan kulit masih hancur, tapi seiring waktu Pak Mahdis pun akhirnya bangkit dan memberanikan diri untuk melamar pekerjaan, karena sudah tidak ingin membebani kedua orang tuanya. 




Bapak Agus Suprapto menyatakan bahwa Kemenko PMK sebagai koordinator beberapa kementrian bertindak tidak hanya dari segi klinis saja. Tapi juga bagaimana dengan memberdayakan OYPMK. Di Jawa Bali mungkin hanya dari segi klinis, tapi di Papua ada masalah genetika yang menyebabkan reaktif, dan dampaknya lebih berat, dan terjadi alergi pada obat. Dan, saat ini merupakan masalah besar yang tengah dihadapi dan sedang diadakan penelitian di dunia.


Kunci dari Kusta sebenarnya kebersihan, oleh karena itu Bapak Menko PMK berusaha menggarap dari dimensi lain. Di Kota-Kota besar, ada program Kotaku, daerah yang kurang matahari, sanitasi kurang bagus, dilakukanlah perbaikan. Hari Jum'at, Pak Menko akan ke Medan yang kasusnya cukup tinggi dan dilakukan perbaikan pemukiman. Begitu juga Solo, dan daerah lainnya. Yang tersisa saat ini adalah sejumlah penderita di Rumah Sakit yang belum bisa dikembalikan karena beberapa hal, seperti belum bisa diterima oleh keluarganya. Yang menjadi PeeR untuk diselesaikan bersama.


Mas Rizal berpendapat bahwa hal ini tidak hanya bisa dikerjakan oleh Pemerintah, karena faktor kesadaran di Masyarakat pun perlu untuk ditingkatkan.


Bapak Agus juga menyatakan bahwa beberapa waktu sebelum Covid ingin menggarap program bagi para penderita Kusta ini, tapi karena Covid menjadi terhenti. Tapi saat ini mulai akan digerakkan kembali. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada sebagian orang yang takut, padahal orang yang sudah sembuh setara dengan orang normal. Oleh karena itu para mitra ingin bersama-sama untuk menjelaskan pada masyarakat.




Pandangan Bapak Mahdis mengenai anggapan yang mengatakan bahwa OYPMK sebagai kelompok yang tidak produktif karena dianggap tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang tidak mumpuni dan keterbatasan fisik. Tapi dibalik itu semua, sepanjang OYPMK diberi ruang, waktu dan kesempatan, In Shaa Allah pasti bisa. Jadi, anggapan tersebut bisa ditepis oleh OYPMK sendiri, sepanjang ia mau berusaha, mencari dan belajar. Karena yang menjadi pemasalahan OYPMK itu pendidikan, jarang yang memiliki pendidikan yang tinggi. Sedangkan yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi, seakan tidak mau terdata sebagai OYPMK. Dan kebanyakan yang terdata itu rata-rata dari kalangan bawah, dan kesempatan untuk menempuh pendidikan pun kurang. Karena harus minum obat selama 6 bulabn - 1 tahun, yang menghambat untuk menempuh jalur pendidikan.


Bapak Mahdis sendiri, karena latar belakang SMAnya aktif di organisasi, dan ketika melamar pekerjaan dari awal sudah mencantumkan OYPMK. Dan sudah menyatakan pada HRDnya. Kalau terus terang lebih awal, terserah perusahaan mau menerima atau tidak. Kalau tidak diterima, jangan sampai karena faktor OYPMKnya.


Menurut Bapak Mahdis peluang dan kemudahan dari perusahaan tempat beliau bekerja ini memang cukup mudah dan tidak dibeda-bedakan bahkan tidak dibebani persyaratan yang rumit.


Sesi Pertanyaan




Salah satu penonton Talkshow, Ainun Isnaeni menanyakan apakah di tempat kerja Mas Mahdis dibedakan untuk jenis pekerjaan terkait OYPMK, misalnya divisi tertentu saja yang menerima teman-teman dari OYPMK.


Awalnya memang banyak OYPMK yang tidak diterima di divisi tertentu. Mas Mahdis sendiri sempat mengalami hal tersebut, seperti divisi yang banyak bersinggungan dengan masyarakat umum yang masih enggan untuk menerima OYPMK. Akan tetapi seiring waktu dan sosialisasi yang ada, bahwa OYMPK sudah bersih secara fisik dan penyakit, akhirnya divisi di Rumah Sakit mau menerima walaupun belum semua, tapi tidak terlalu menampakkan seperti awal. Dulu kasar ketika menolak, sekarang lebih halus. Bahkan sekarang di instalasi Apotik yang cukup keras untuk menolak, tapi Alhamdulillah sekarang mereka mau menerima selama OYPMK minum obat maka tidak akan menularkan pada siapapun.


Sekarang dari 2 team, dari 10 orang yang difokuskan bekerja di taman, hanya 1 orang yang bukan OYPMK. Agar memacu teman-teman yang lain bahwa OYPMK itu  masih produktif walaupun panas-panasan. Bahkan OYPMK bergabung dan berbaur dengan orang lain.


Pertanyaan berikutnya dari CeritaIbun, bagaimana anda menyikapi orang-orang yang masih memandang rendah disaat bekerja, misalnya orang yang terang-terangan mengamati anda lalu berbisik-bisik, apakah pernah sakit hati atau cuek saja?


Awalnya memang mengalami, ketika naik angkot orang-orang terlihat menghindar dan berbisik-bisik. Memang awalnya sakit hati, tapi lama-lama cuek saja, dibawa happy dan tidak ambil pusing. 


Kartika Indah juga menanyakan dimana Mas Mahdis bekerja, dan kondisi sekarang masih minum obat, dan usia berapa terdiagnosa kusta, serta terkena kusta karena penularan atau karena apa?


Awal mula terkena sakit awal 2010,sekitar umur 25-26an, dan tidak tahu obat apa yang diminum, karena Bapaknya melarang petugas puskesmas menyampaikan pada Bapak Mahdis, karena khawatir putranya stres. Dan selama 9 bulan minum obat, setiap menanyakan obat apa yang diminum, petugas hanya mengatakan alergi. Akhirnya karena penasaran, beliau melihat obatnya dan ada tulisan for leprosy, dan setelah melihat literatur ternyata untuk penyakit kusta. Barulah Bapak Mahdis mulai stres. 


Berikutnya ada Hanan yang bertanya melalui telepon. Banyakan manakah antara rekan pria atau wanita yang OYPMK, dan banyaknya jumlah yang diterima di perusahaan apakah ada kuota, serta kendala yang dirasakan OYPMK yang sudah bekerja, apakah masih ada unek-unek atau keluhan?


Presentasenya 60-40 masih lebih banyak laki-laki. Dari 20 orang, sekitar 15 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Dan dari perusahaan sendiri tidak ada kuota dan tidak membatasi. Selama orang yang bekerja memang mampu dan mau. Hanya di beberapa divisi, seperti poli umum yang banyak bersinggungan dengan masyarakat umum yang masih belum mau menerima. Kendala yang dialami dari kinerja karena OYPMK apabila terlalu capek, fisiknya akan menurun. Sebagai Supervisor, tidak akan terlalu memforsir, oleh karena itu timnya digabung agar jeda istirahat tetap berjalan seperti biasa tapi secara tidak langsung menguntungkan bagi OYPMK. Dinas malam pun ditiadakan untuk OYPMK.


Pertanyaan berikut dari Mbak Dini, apakah ada perbedaan job desk antara OYPMK dan lainnya.

Bapak Mahdis mengatakan bahwa tidak ada job desk yang berbeda. Hanya ada beberapa divisi yang tidak dimasuki yang memang masih belum menerima, jadi tidak ditempatkan di lokasi- lokasi itu.


Berikutnya, pertanyaan dari Uni Yani, bagaimana di awal-awal mencari pekerjaan?


Pesan dan harapan Mas Mahdis untuk teman-teman OYPMK, yang pertama tetap jaga kesehatan, karena apabila kualitas hidup tidak baik akan mempengaruhi kerja dan mencari kerja kedepannya. Yang kedua, jangan selalu mau dipandang tidak punya apa-apa dan keterampilan. Tetaplah belajar, mencari ilmu, percaya akan kemampuan yang dimiliki, dan berusaha bahwa dimana ada peluang dan kesempatan, bisa menunjukkan bahwa walaupun ada keterbatasan fisik, tapi In Shaa Allah pekerjaan tidak akan terbatas untuk OYPMK.


Tetap semangat, OYPMK berdaya!!






1 komentar:

  1. Ini keren nih. Memberi kesempatan kerja bagi oypmk. Kalau di tempat saya juga ada orang yang sakit tapi didukung teman2nya akhirnya dia bisa mandiri kerja online.

    BalasHapus